Ubuntu Linux Hardy Heron 8.04 Resmi Dijual

posted under by TW.ONNO

Washington - Sistem operasi Ubuntu Linux cukup populer di kalangan pemakai komputer. Selain gratis, pemakaiannya pun dinilai tak terlalu ribet.

Namun kini selain pilihan download gratis di internet, konsumen yang berminat, khususnya di Amerika Serikat, bisa membeli paket box Ubuntu versi Hardy Heron 8.04 plus support, dengan banderol USD 20 di jaringan toko BestBuy. Apakah ini berarti lambat laun Ubuntu tidak akan cuma-cuma lagi?

Sejak pertama diluncurkan tahun 2004, Ubuntu memang bisa diunduh dan dipakai gratis. Namun seringkali konsumen kesulitan mengunduhnya, misalnya karena koneksi yang lamban. Ada juga masalah lain, contohnya saja konsumen susah mengoperasikannya.

Nah, alasan itulah yang dipakai Steve George, Direktur di Canonical Ltd yang mensponsori Ubuntu, untuk menjual paket Ubuntu tersebut. Konsumen yang membelinya dijanjikan akan mendapat support penuh selama 60 hari dan panduan pengoperasian.

"Beberapa orang memang tahu bahwa Ubuntu gratis, namun mereka tidak punya bandwidth untuk mengunduhnya. Maka itu, penjualan ini adalah langkah mudah untuk mendapat Ubuntu," demikian tutur George seperti dikutip detikINET dari ComputerWorld, Jumat (11/7/2008).

Sebenarnya sejak 2006, juga sudah ada penawaran CD Ubuntu di toko online Amazon.com dengan harga USD 12. George menambahkan, mereka berencana untuk memperluas penjualan box Ubuntu ini ke jaringan toko yang lain. Semua itu dilakukan dengan alasan untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Ubuntu terkena ketentuan Impor

posted under by TW.ONNO

Kasus Ubuntu yang didistribusikan lewat pengiriman CD mencuat lagi. Setelah Ananda Putra mengirim salinan email dari mailing list id-ubuntu tentang kesulitan salah seorang penerima CD Ubuntu yang dikaitkan dengan alasan petugas pos yang mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan RI no. 05/M-DAG/PER/4/2005 tanggal 18 Juni 2005. Penjelasan pihak kantor pos dalam uraian tersebut terkesan tendensius: karena kesepakatan dengan Microsoft. Saya sendiri agak kurang percaya akan kebenaran alasan ini — entah penulis email tersebut salah tafsir atau si petugas sembrono memilih alasan. Apakah kesepakatan dengan Microsoft otomatis berlawanan dengan distribusi perangkat lunak bebas?

Berikutnya yang dibahas pada ulir diskusi di Teknologia tersebut adalah Peraturan Menteri Perdagangan Tentang Impor Mesin. Oleh beberapa peserta diskusi ketentuan tersebut disinyalir berkait dengan hambatan pada distribusi Ubuntu.

Setelah saya baca Peraturan Menteri tersebut dan mencoba memahami, yang saya tangkap sebagai berikut:

  1. ketentuan tersebut lebih mengarah pada impor cakram optik yang nantinya akan diperdagangkan di Indonesia. Lebih khusus lagi pada cakram optik kosong yang memang sekarang ini diperdagangkan bebas di dalam negeri. Mendatangkan cakram optik yang sudah berisi umumnya dilakukan oleh vendor perangkat lunak komersial (bukan importir cakram optik kosong). Baik importir cakram optik kosong atau vendor perangkat lunak menurut saya adalah perusahaan yang berbadan hukum. Dengan demikian, jika dilihat pada pasal 2 ayat 4 ketentuan tersebut,

    Mesin, Peralatan Mesin, Bahan Baku, Cakram Optik Kosong, dan Cakram Optik Isi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) hanya dapat diimpor oleh Perusahaan Cakram Optik yang telah mendapat penunjukan sebagai IT Cakram Optik.

    berarti kedua jenis badan usaha tersebut perlu mendapat surat penunjukan dari pemerintah.
  2. Apakah Ubuntu yang datang lewat jalur pos termasuk kategori barang impor? Saya agak sangsi; menurut definisi yang ditulis di UU 8/1983, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,

    Impor adalah semua kegiatan memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean.

Ubuntu adalah distribusi GNU/Linux dengan salah satu cara penyebaran lewat kemasan CD dan dikirim ke seluruh dunia. Kita sebagai warga negara Indonesia cukup meminta lewat situs Web mereka dan menunggu lewat kiriman pihak pos. Secara formal, menurut saya, tidak ada badan resmi yang menjadi importir seperti halnya barang-barang yang diimpor. Tambahan lagi: CD Ubuntu berongkos Rp 0.

Dengan demikian, kedatangan Ubuntu dalam konteks tersebut lebih dekat disebut distribusi dari produsen ke konsumen (B2C?) dibanding kegiatan ekspor-impor yang umumnya sesama entitas bisnis (B2B). Sama halnya dengan pemesanan buku ke toko online seperti Amazon misalnya.

Pandangan di atas baru pendapat saya. Sila mereka yang lebih paham tentang impor menjelaskan dengan lebih baik. Tentu saja saya tetap berharap Ubuntu dapat dinikmati dengan mudah dan murah seperti yang sudah berjalan selama ini.

[25 Jun] Priyadi Iman Nurcahyo mengumpulkan kisah-kisah penerima CD Ubuntu yang memperlihatkan “keragaman” petugas PT Pos Indonesia dalam menangani pengiriman CD.

top